Serial Penjelasan Rukun Islam #1: (2) Mengenal Allah dan RububiyyahNya
Banyak sekali orang di dunia ini yang terjerumus dalam kesalahan tentang masalah yang sangat penting lagi mendasar ini, menjadikan batu batu sebagai tuhan, meyakini tuhan ada 3, mengatakan Tuhan memiliki istri dan anak, dan menyembah apa-apa yang sebenarnya tidak memadhorotkan dan tidak pula mampu memberi manfaat. Maka, mengenal Allah dengan mentauhuidkanNya beserta sifat-sifatNya yang agung sebagai rabb adalah sebuah bekal pertama yang harus dimiliki seorang hamba di dunia.(Untuk melengkapi pemahaman, lihat: Serial Penjelasan Rukun Islam (1): Islam dan Dalil Rukun Islam).I
Pengertian Tauhid
Tauhid adalah meyakini keesaan Allah dalam rububiyyah, ikhlas beribadah kepadaNya, serta menetapkan baginya nama-nama dan sifat-sifatNya. Begitulah pengertian Tauhid menurut dr. Sholih bin Fauzan bin Abdullah al-Fauzan dalam kitab tauhidnya.
Pengertian Rabb
Dalam kitab ushulutstsalaatsah, Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab at-Tamimi menyebutkan, Rabb adalah al-ma’bud (yang disembah). Beliau berdalil dengan firman Allah subhanahu wa ta’ala,
“Hai manusia, sembahlah rabbmu yang telah menciptakanmu dan (menciptakan) orang-orang sebelummu, agar kamu bertakwa. Dialah yang menjadikan bumi sebagai hamparan bagimu dan langit sebagai atap dan Dia menurunkan air (hujan) dari langit, lalu Dia menghasilkan dengan hujan itu buah-buahan sebgai rizki untukmu, karena itu janganlah kamu mengadakan sekutu-sekutu selain Allah padahal kamu mengetahui.” (QS. Al-Baqarah: 21-22)
Dalam tafsirnya, Ibnu Katsir berkata, “yang menciptakan segala sesuatu inilah yang berhak untuk disembah.”
Tauhid rububiyyah
Tauhid rububiyyah yaitu kita beriman akan keesaan Allah Yang Maha Mulia dan Maha Tinggi dalam rububiyyahNya, bahwasanya Dia sendirilah Sang Pencipta segala sesuatu.
Allah subhanahu wa ta’alaberfirman,
“ Allah menciptakan segala sesuatu” (QS. Az-Zumar: 62)
Dialah Allah Yang Maha Mulia dan Maha Tinggi yang memberi rizki kepada semua makhluknya tanpa terkecuali. Allah subhanahu wa ta’alaberfirman,
”dan tidak ada suatu binatang melatapun di bumi kecuali Allahlah yang memberi rizkinya” (QS. Hud: 6)
Dialah Allah Yang Maha Mulia dan Maha Tinggi Penguasa alam dan Pengatur semesta, Dia yang mengangkat dan yang menurunkan, Dia Yang Memuliakan dan Yang Menghinakan, Maha Kuasa atas segala sesuatu. Pengatur rotasi siang dan malam, Yang Menghidupkan dan Yang Mematikan. Allah subhanahu wa ta’alaberfirman,
”Katakanlah, ‘Wahai Tuhan Yang memiliki kerajaan, Engkau berikan kerjaan kepada orang yang Engkau kehendaki dan Engkau cabut kerajaan dari orang yang Engkau kehendaki. Engkau muliakan orang yang Engkau kehendaki dan Engkau hinakan orang yang Engkau kehendaki. Di tangan Engkaulah segala kebijakan. Sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu. Engkau masukkan malam kepada siang dan Engkau masukkan siang kepada malam. Engkau keluarkan yang hidup dari yang mati dan Engkau keluarkan yang mati dari yang hidup. Dan Engkau beri rizki siapa yang Engkau kehendaki tanpa hisab (batas)” (QS. Ali-Imran : 26-27)
Allah subhanahu wa ta’alatelah menafikan sekutu dalam kekuasaanNYa. Sebagaimana Dia menafikan sekutu dalam penciptaan segala sesuatu. Allah subhanahu wa ta’alaberfirman,
“Inilah ciptaan Allah, maka perlihatkan olehmu kepadaku apa yang telah diciptakan oleh sesembahan-sesembahan(mu) selain Allah” (QS. Luqman: 11)
“atau siapakah dia ini yang memberi kamu rizki jika Allah menahan rizkiNya?” (QS. Al-Mulk:21)
Lalu bagaimana kita bisa yakin tentang rububiyyah Allah subhanahu wa ta’ala? Keyakinan tentang hal itu adalah karena hidayah Allah subhanahu wa ta’alayang bisa kita amati dengan akal, panca indra, dan dari dalil syari’at.
Dalil-Dalil rububiyyah Allah subhanahu wa ta’ala
Dalil Akal
Setiap yang diciptakan pasti ada yang menciptakan. Ini merupakan kepastian akal dan kebenaran yang diakui syari’at. Bagaimana mungkin seseorang mengingkari kebenaran ini sedangkan sandal yang dipakainya, baju yang dikenakannya, kendaraan yang mengangkutnya, payung yang menaunginya, serta makanan dan minuman yang menguatkannya dan segala sesuatu yang ada di sekitarnya menjadi bukti kebenaran tersebut? Tentu akalnya tidak menerima bila dikatakan semua benda tersebut muncul tanpa ada yang menciptakan. Hal ini dikuatkan dengan firman Allah subhanahu wa ta’ala,
“Apakah mereka diciptakan tanpa sesuatupun ataukah mereka yang menciptakan (diri mereka sendiri). Atau mereka telah menciptakan langit dan bumi itu; sebenarnya mereka tidak meyakini (apa yang mereka katakan).” (QS. Ath-Thur: 35-36)
Ciptaan merupakan cermin dari kemampuan penciptanya. Bila kita melihat lampu listrik, kita akan mengetahui bahwasanya yang membuat lampu tersebut mengerti seluk beluk listrik dan dia berkemampuan dalam hal itu. Ini adalah kebenaran yang diyakini akal setiap orang. Lalu bagaimana dengan yang menciptakan langit dan bumi dan segala isinya, yang menciptakan matahari dengan segala manfaat yang bisa kita peroleh, yang menciptakan manusia dengan segala kesempurnaannya, dan yang menciptakan hujan yang menghidupkan tanah yang mati dan menumbuhkan tumbuhan-tumbuhan di atas tanah tersebut? Sungguh, keagungan ciptaan ini menunjukkan Kemahaagungan Sang Pencipta.
Allah subhanahu wa ta’alaberfirman,
“Allah, Dialah yang mengirim angin, lalu menggerakkan awan, dan Allah membentangkannya dilangit menurut yang dikehendakiNya, dan menjadikan bergumpal-gumpal, lalu kamu lihat hujan keluar dari celah-celahnya, maka apabila hujan itu turun mengenai hamba-hamba yang dikehendakiNya, tiba-tiba mereka menjadi gembira. Dan sesungguhnya sebelum hujan diturunkan kepada mereka, mereka benar-benar telah putus asa. Maka perhatikanlah bekas-bekas rahmat Allah, bagaimana Allah menghidupkan bumi yang sudah mati. Sesungguhnya (Rabb yang berkuasa seperti) demikian benar-benar berkuasa menghidupkan oarang yang telah mati. Dan Mahakuasa atas segala sesuatu.” (QS. Ar-Rum: 48-50)
Suatu ciptaan tidak mungkin diciptakan oleh sesuatu yang tidak bisa menciptakannya. Tidak mungkin seekor hewan tidak berakal meluncurkan sebuah satelit keluar dari atmosfer bumi, tidak mungkin juga seorang yang bodoh dan dungu dalam bidang kedokteran berhasil melakukan operasi jantung ataupun organ lainnya. Demikian pula batu si benda mati yang tidak mempunyai kemampuan menciptakan, memberi rizki, menghidupkan, mematikan, memberi manfaat ataupun madhorot kepada yang dikehendakinya. Sebagaimana firman Allah subhanahu wa ta’ala,
“Apakah mereka mempersekutukan (Allah dengan) berhala-berhala yang yang tak dapat menciptakan sesuatupun, sedangkan berhala-berhala itu sendiri buatan orang? Dan berhala-berhala itu tidak mampu memberi pertolongan kepada penyembah-penyembahnya dan kepada dirinya sendiripun berhala-berhala itu tidak dapat memberi pertolongan. Dan jika kamu (hai orang-orang musyrik) menyerunya (berhala) untuk memberi petunjuk kepadamu, tidaklah berhala-berhala itu memperkenankan seruanmu, sama saja hasilnya buatmu menyeru mereka ataupun kamu berdiam diri. Sesungguhnya berhala-berhala yang kamu seru selain Allah itu adalah makhluk (yang lemah) yang serupa juga dengan kamu. Maka serulah berhala-berhala itu lalu birakanlah merka memperkenankan permintaanmu, jika kamu memang orang yang benar. Apakah berhala-berhala mempunyai kaki yang dengan itu dapat berjalan atau mempunyai tangan yang dengan itu dapat memegang dengan keras, atau mempunyai mata yang denga itu dapat melihat, atau mempunyai telinga yang dengan itu dapat mendengar? Katakanlah, ‘Panggillah berhala-berhalamua yang kamu jadikan sekutu Allah, kemudian akukan tipu daya (untuk mencelakakan)ku, tanpa memberi tangguh kepadaku.’”(QS. Al-A’raf: 191 – 195)
“...perlihatkan kepadaKu apakah yang telah mereka ciptakan di Bumi ...” (QS. Al-Ahqaf: 4)
“Sesungguhnya segala sesuatu yang kamu seru selain Allah sekali-kali tidak dapat menciptakan seekor lalatpun, walaupun mereka bersatu untuk menciptkannya.” (QS. Al-Hajj: 73)
“Maka apakah (Allah)yang menciptakan itu sama dengan yang tidak dapat menciptakan (apa-apa)? Maka mengapa kamu tidak mengambil pelajaran?” (QS. An-Nahl: 17)
Teraturnya segala sesuatu dan juga kerapiannya menunjukkan bahwa pengatur dari segala sesuatu itu hanyalah satu. Bayangkanlah, bagaimana jadinya bila seorang budak dimiliki oleh 2 orang tuan atau sebuah kerajaan dipimpin oleh 2 orang raja? Tentu hal itu menuntut adanya 3 kemungkinan:
1. Salah satu mampu mengalahkan yang lain lalu menjadi pemimpin tunggal
2. Masing masing berdiri sendiri membuat kerajaan masing-masing, maka terjadi pembagian kekuasaan
3. Dua raja itu dipimpin oleh sorang raja yang bebas, dalam hal ini berarti 2 raja tersebut menjadi hamba dan hanya ada 1 Tuhan.
Dalam kenyataannya, semua urusan langit dan bumi berjalan dengan teratur tanpa ada ketidakberesan. Hal ini menunjukkan bahwa Sang Pengatur hanyalah satu dan tidak ada yang menentangnya. Allah Maha Esa, tidak ada sekutu bagiNya.
Allah subhanahu wa ta’alaberfirman,
“Allah sekali-kali tidak mempunyai anak dan sekali-kali tidak ada tuhan (yang lain) besertaNya, kalau ada tuhan besertaNya, masing-masing tuhan akan membawa makhluk yang diciptakannya, dan sebagian tuhan itu akan mengalahkan sebgaian yang lain.” (QS. Al-Mu’minun: 91)
Dalil Panca Indra
Panca Indra mengetahui kenyataan terkabulnya do’a. Kita mendengar dan menyaksikan bagaimana Allah subhanahu wa ta’alamengabulkan doa orang-orang yang meminta kepada-Nya dan menolong orang-orang yang menghadapi kesusahan. Semuanya menunjukkan secara pasti tentang keberadaan Allah subhanahu wa ta’ala. Allah subhanahu wa ta’alaberfirman:
“Dan (ingatlah kisah) Nuh, sebelum itu ketika dia berdoa, dan kami mengabulkan doanya, lalu kami selamatkan dia beserta keluarganya dari bencana yang besar.” (Al-Anbiya`:76)
“(Ingatlah), ketika kalian memohon pertolongan kepada Rabbmu, lalu Dia mengabulkannya bagi kalian: ‘Sesungguhnya Aku akan mendatangkan bala bantuan kepada kamu dengan seribu malaikat yang datang berturut-turut’.” (Al-Anfal: 9)
Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu meriwayatkan:
“Seorang Arab dusun datang menemui Nabi صلى الله عليه وسلم pada hari Jum’at ketika beliau tengah berkhutbah. Dia berkata, ‘Wahai Rasulullah, segenap harta telah binasa dan para keluarga telah lapar, maka berdoalah engkau kepada Allah untuk kami.’ Beliau pun mengangkat kedua tangannya seraya berdoa. Maka menggumpallah awan-awan laksana gunung-gunung. Tidaklah beliau turun dari mimbarnya, sampai aku melihat hujan menetes di atas jenggotnya. Kemudian pada Jum’at yang kedua, orang Arab dusun itu –atau mungkin juga yang selainnya– kembali berdiri. Dia berkata, ‘Wahai Rasulullah, bangunan-bangunan telah hancur dan segenap harta telah tenggelam, maka berdoalah engkau kepada Allah untuk kami.’ Beliau pun kembali mengangkat kedua tangannya sembari berdoa, ‘Ya Allah, (alihkanlah hujan itu) di sekitar kami dan bukan pada kami.’ Tidaklah beliau menunjuk kepada satu arah melainkan telah terbuka.” (HR. Al-Bukhari)
Pengabulan doa bagi orang-orang yang meminta kepada Allah subhanahu wa ta’alasenantiasa menjadi sebuah perkara yang disaksikan sampai masa kita ini, selama mereka menyandarkan diri kepada Allah subhanahu wa ta’aladengan sebenar-benarnya dan memenuhi syarat-syarat pengabulan doa.
Panca Indra mengetahui hakekat mukjizat-mukjizat nabi. Manusia mendengar dan menyaksikan bagaimana Allah subhanahu wa ta’alamembela dan menolong para Nabi dan Rasul-Nya dengan pelbagai mukzijat di luar batas kemampuan manusia biasa. Semua itu adalah bukti konkret yang mengungkap keberadaan Dzat yang telah mengutus mereka dengan kebenaran. Di sana terdapat beberapa contoh nyata dan dikisahkan di dalam Al-Qur`an, di antaranya:
Yang pertama: Mukjizat Nabi Musa ‘alaihissalam ketika beliau diperintahkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’alauntuk memukulkan tongkatnya ke laut. Maka lautan terbelah menjadi duabelas jalan yang kering. Sementara air berada di antara jalan-jalan itu seperti gunung yang besar. Allah subhanahu wa ta’alaberfirman,
“Lalu kami wahyukan kepada Musa: ‘Pukullah lautan itu dengan tongkatmu.’ Maka terbelahlah lautan itu dan tiap-tiap belahan adalah seperti gunung yang besar.” (As-Syu’ara`: 63)
Yang kedua: Mukjizat Nabi ‘Isa ‘alaihissalam ketika beliau melakukan beberapa perkara yang benar-benar di luar batas kemampuan manusia biasa. Di antaranya, beliau bisa menghidupkan kembali orang yang sudah meninggal dan mengeluarkannya dari kubur mereka dengan seizin Allah subhanahu wa ta’ala. Allah subhanahu wa ta’alaberfirman:
“Dan (sebagai) Rasul kepada Bani Israil (lalu berkata kepada mereka): ‘Sesungguhnya aku telah datang kepada kalian dengan membawa suatu tanda (mukjizat) dari Rabb kalian, yaitu aku membuat untuk kalian dari tanah berbentuk burung; Kemudian aku meniupnya, maka ia menjadi seekor burung dengan seizin Allah. Dan aku menyembuhkan orang yang buta sejak dari lahirnya dan orang yang berpenyakit sopak. Dan aku menghidupkan orang mati dengan seizin Allah. Dan aku kabarkan kepada kalian apa yang kalian makan dan apa yang kalian simpan di rumah kalian. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat sesuatu tanda (kebenaran kerasulanku) bagi kalian, jika kalian sungguh-sungguh beriman’.” (Ali ‘Imran: 49)
“(Ingatlah), ketika Allah mengatakan: Hai Isa putra Maryam, ingatlah nikmat-Ku kepadamu dan kepada ibumu di waktu Aku menguatkan kamu dengan Ruhul Qudus. Kamu dapat berbicara dengan manusia di waktu masih dalam buaian dan sesudah dewasa; dan (Ingatlah) di waktu Aku mengajar kamu menulis, hikmah, Taurat dan Injil, dan (ingatlah pula) di waktu kamu menjadikan dari tanah (suatu bentuk) yang berupa burung dengan ijin-Ku, Kemudian kamu meniupnya, lalu bentuk itu menjadi burung (yang sebenarnya) dengan seizin-Ku. dan (Ingatlah) di waktu kamu menyembuhkan orang yang buta sejak dalam kandungan ibu dan orang yang berpenyakit sopak dengan seizin-Ku. Dan (Ingatlah) di waktu kamu mengeluarkan orang mati dari kubur (menjadi hidup) dengan seizin-Ku, dan (Ingatlah) di waktu Aku menghalangi Bani Israil (dari keinginan mereka membunuh kamu) di kala kamu mengemukakan kepada mereka keterangan-keterangan yang nyata, lalu orang-orang kafir di antara mereka berkata: “Ini tidak lain melainkan sihir yang nyata.” (Al-Ma`idah: 110)
Yang ketiga: Mukjizat Nabi kita Muhammad صلى الله عليه وسلم ketika beliau diminta oleh orang-orang Quraisy untuk mendatangkan sebuah tanda kebenaran kenabian dan kerasulannya. Maka beliau memberi isyarat ke arah bulan yang kemudian terbelah menjadi dua, dan manusia pun menyaksikannya. Allah subhanahu wa ta’alaberfirman:
“Telah dekat datangnya hari kiamat dan telah terbelah bulan. Dan jika mereka (orang-orang musyrikin) melihat suatu tanda (mukjizat), mereka berpaling dan berkata: ‘(Ini adalah) sihir yang terus menerus’.” (Al-Qamar: 1-2)
Demikianlah tanda-tanda kebesaran Allah subhanahu wa ta’alayang bisa ditangkap oleh panca indera sebagaimana tersebut di atas, yang merupakan mukjizat-mukjizat yang dengannya Allah subhanahu wa ta’alamembela dan menolong para Nabi dan Rasul-Nya. Sekali lagi perlu ditegaskan bahwa semua itu menunjukkan keberadaan Dzat Yang Maha Pencipta atas seantero alam ini.
Dalil Syari’at
Allah subhanahu wa ta’ala, Dialah Tuhan yang sebenarnya, tidak ada sekutu bagiNya,
“Maka (Dzat yang demikian) itulah Allah Tuhan kamu yang sebenarnya, maka tidak ada sesudah kebenaran itu melainkan kesesatan.” (QS. Yunus: 32)
Allah subhanahu wa ta’ala, Dialah Tuhan alam semesta,
“Segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam.” (QS. Al-fatihah:2)
Allah subhanahu wa ta’ala, Dialah Tuhan Yang Maha Esa, tidak ada sekutu bagiNya,
“’Katakanlah!’ Dialah Allah yang Maha Esa. Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya sgala sesuatu. Dia tidak beranak dan tidak diperanakkan. Dan tidak ada seorangpun yang setara dengan-Nya.” (QS. Al Ikhlash: 1-4)
Allah subhanahu wa ta’ala, Dialah Sang Pencipta, tidak ada sekutu bagiNya,
“Hai sekalian manusia, sembahlah Rabb kalian yang telah menciptakan kalian dan orang-orang sebelum kalian agar kalian menjadi orang-orang yang bertakwa. Yang telah menjadikan bumi terhampar dan langit sebagai bangunan dan menurunkan air dari langit, lalu Allah mengeluarkan dengannya buah-buahan sebagai rizki bagi kalian. Maka janganlah kalian menjadikan tandingan-tandingan bagi Allah”. (Al-Baqarah: 21-22)
“Padahal Allah telah menciptakan kalian dan sesuatu yang kalian perbuat itu.” (QS. Ash-Shaaffaat: 96)
“Sesungguhnya tuhan kamu ialah Allah yang telah menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, lalu Dia bersemayam di atas ‘Arsy...” (QS. Al-A’raf: 54)
“...Ingatlah, menciptakan dan memerintah hanyalah ahak Allah. Maha Suci Allah, Tuhan semesta alam.” (QS. Al-A’raf: 54)
“Dan Dialah Allah yang menciptakan manusia dari permulaan, kemudian mengembalikan(menghidupkan)nya, dan menghidupkan kembali itu adalah lebih mudah bagiNya. Dan bagiNya sifat Yang Maha Tinggi di langit dan di bumi. Dan Dialah yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (QS. Ar-Rum: 27)
Allah subhanahu wa ta’ala, Rabb yang memelihara langit dan bumi dan apa yang ada diantara keduanya, tidak ada sekutu bagiNya,
“Rabb yang memelihara langit dan bumi dan apa yang ada diantara keduanya, jika kalian adalah orang yang meyakini.” (QS. Ad-Dukhan: 4)
Allah subhanahu wa ta’ala, Tuhan Pemilik Kerajaan, Tuhan Yang Maha Berkehendak, Maha Berkuasa atas segala sesuatu, tidak ada sekutu bagiNya,
”Katakanlah, ‘Wahai Tuhan Yang memiliki kerajaan, Engkau berikan kerjaan kepada orang yang Engkau kehendaki dan Engkau cabut kerajaan dari orang yang Engkau kehendaki. Engkau muliakan orang yang Engkau kehendaki dan Engkau hinakan orang yang Engkau kehendaki. Di tangan Engkaulah segala kebijakan. Sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu. Engkau masukkan malam kepada siang dan Engkau masukkan siang kepada malam. Engkau keluarkan yang hidup dari yang mati dan Engkau keluarkan yang mati dari yang hidup. Dan Engkau beri rizki siapa yang Engkau kehendaki tanpa hisab (batas)” (QS. Ali-Imran : 26-27)
Allah subhanahu wa ta’ala, Dialah Tuhan Yang Mengatur Rizki bagi makhlukNya, tidak ada sekutu bagiNya,
“...Dan menurunkan dari langit hujan. Maka kami tumbuhkan dengan air hujan itu berjenis-jenis dari tumbuhan-tumbuhan yang bermacam-macam. Makanlah dan gembalakanlah binatang kalian.” (QS. Thaahaa: 53-54)
“...Dan Kami turunkan hujan dari langit, lalu Kami beri minum kamu dengan air itu, dan sekali-kali bukan kalian yang menyimpannya.” (QS. Al-Hijr: 22)
Penjelasan, persaksian, dan penetapan Nabi Nuh ‘alaihissalam tentang rububiyyahNya,
“Ya Rabb kami, kami telah menganiaya diri kami sendiri, dan jika Engkau tidak mengampuni kami dan memberi rahmat kepada kami, pastilah kami termasuk orang-orang yang merugi.” (QS. Al-A’raf: 27)
Nabi Ibrahim berdo’a untuk Makkah al-Mukarramah, dirinya serta keturunannya kepada Allah,
”Ya Rabbku, jadikanlah negeri ini(Makkah), negeri yang aman, dan jauhkanlah aku serta anak cucuku dari menyembah berhala.” (QS. Ibrahim: 35)
Nabi Muhammad صلى الله عليه وسلم dan para rasul telah berdo’a kepada Allah subhanahu wa ta’alaketika menghadapi kesusahan,
”Tidak ada Rabb selain Allah Yang Mahaagung dan Mahalembut.Tidak ada Rabb selain Allah, Rabb (singgasana) ‘Arsy yang Agung. Tidak ada Rabb selain Allah, Rabb langit dan bumi serta Rabb ‘Arsy yang mulia.” (HR. Bukhari (8/93) dan Muslim (21) )
Tauhid rububiyyah Ini Diyakini oleh Seluruh Manusia, bahkan seorang Atheispun
Ini disebabkan karena hati manusia difitrah(naluri)kan untuk mengakuiNya, melebihi fitrah pengakuan terhadap selainNya. Yang dimaksudkan fitrah disini menurut ulama ahli tafsir adalah perjanjian yang diambil Allah akan rububiyyahNya atas hambanya sebelum diwujudkan. Fitrah ini merupakan hujjah yang tegak atas mereka tidak mungkin bagi mereka untuk tidak mengetahuinya dengan alasan mengikuti kakek-kakek terdahulu. Sebagaimana firman Allah subhanahu wa ta’ala,
“Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman), ‘Bukankah Aku ini Tuhanmu?’ Mereka menjawab, ‘Betul (Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi. (Kami lakukan yang demikian itu) agar dihari kiamat kamu tidak mengatakan, ‘Sesungguhnya kami (Bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (keesaan Tuhan)’, atau agar kamu tidak mengatakan, ‘Sesungguhnya orang-orangtua kami telah mempersekutukan Tuhan sejak dahulu, sedang kami ini anak-anak keturunan yang datang (sesudah) mereka. Maka apakah Engkau akan membinasakan kami karena perbuatan orang-orang sesat dahulu?” (QS. Al-A’raf: 172-173)
Kadang fitrah atau naluri ini tertutupi oleh kesejahteraan dan kesehatan yang dimiliki, atau karena kelalaian mereka. Setanlah yang memalingkan mereka, sebagaimana dalam hadits qudsi,
“Aku ciptakan hamba-hambaku dalam kedaan lurus bersih, maka setanlah yang memalingkan mereka.” (HR. Muslim dan Ahmad)
Namun, jika segala kemudahan yang mereka peroleh tersebut berubah menjadi kemburukan atau kemadharatan, maka niscaya seorang kafirpun akan segera tunduk kembali kepada rububiyyahNya.
“Dialah yang telah menjadikanmu dapat berjalan di daratan, dan (berlayar) di lautan. Sehingga apabila kamu berada di dalam bahtera dan meluncurlah bahtera itu membawa orang-orang yang ada di dalamnya dengan tiupan angin yang baik, dan mereka bergembira karenanya, datanglah angin badai, dan (apabila) gelombang dari dari segenap penjuru menimpanya, dan mereka yakin bahwa mereka telah terkepung (bahaya), maka mereka berdo’a kepada Allah dengan mengikhlaskan ketaatan kepadaNya semata-mata. (Mereka berkata), ‘Sesungguhnya jika Engkau menyelamatkan kami dari bahaya, pastilah kami termasuk orang-orang yang bersyukur’.” (QS. Yunus: 22)
“Apabila mereka dilamun ombak yang besar seperti gunung,mereka menyeru Allah dengan memurnikan ketaatan kepadaNya, maka tatkala Allah menyelamatkan mereka sampai di daratan, lalu sebagian mereka telah menempuh jalan yang lurus. Dan tidak ada yang mengingkari ayat-ayat Kami kecuali orang-orang yang tidak setia lagi ingkar.” (QS. Luqman: 32)
Adapun orang yang terkenal dengan pengingkarannya adalah Fir’aun. Namun demikian, hatinya masih tetap meyakini keberadaanNya. Sebagaiman perkataan Musa ‘alaihissalam kepadanya,
“Musa menjawab, ‘Sesungguhnya kamu telah mengetahui bahwa tiada yang menurunkan mukjizat-mukjizat itu kecuali Tuhan Yang Memelihara langit dan bumi sebagai bukti-bukti yang nyata, dan sesungguhnya aku mengira kamu, hai Fir’aun, seorang yang akan binasa.” (QS. Al-Isra’: 102)
Ia juga menceritakan tentang Fir’aun dan kaumnya,
“Dan mereka mengingkari karena kedzaliman dan kesombongan (mereka) padahal hati mereka meyakini (kebenaran)nya.” (QS. An-Naml: 14)
Begitu pula orang-orang yang mengingkariNya di zaman ini, seperti komunis (atheis). Mereka menampakkan keingkaran karena kesombongan mereka. Namun sebenarnya, secara diam-diam dalam batin tetap meyakini bahwa tidak ada satu makhlukpun yang ada tanpa Pencipta, tidak ada seuatu bendapun kecuali ada yang membuatnya, dan tidak ada suatu pengaruhpun kecuali ada yang mempengaruhinya. Firman Allah subhanahu wa ta’ala,
“ Apakah mereka diciptakan tanpa sesuatupun ataukah mereka (menciptakan diri mereka sendiri)? Ataukah mereka telah menciptakan langit dan bumi itu? Sebenarnya mereka tidak meyakini (apa yang mereka katakan).” (QS. Ath-Thur: 35-36)
“Berkata Rasul-rasul mereka, ‘Apakah ada keragu-raguan terhadap Allah, Pencipta langit dan bumi?’” (QS. Ibrahim: 10)
“Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama (Allah); (tetaplah atas) fitrah yang telah menicptakan manusia menurut fitrah itu.Tidak ada perubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.” (QS. Ar-Rum: 30)
Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda,
“Setiap bayi dilahirkan diatas fitrah,maka kedua orangtuanyalah yang menjadikan Yahudi, Nasrani, atau Majusi.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Bahkan Alam semesta tunduk Patuh Kepada Allah awt
Semua makhluk yang Allah ciptakan tunduk patuh kepada kekuasaan Allah, seperti yang banyak kita temukan dalam Kitabullah:
“padahal kepadaNya-lah berserah diri segala yang ada di langit dan di bumi, baik dengan suka maupun terpakasa....” (QS. Ali-Imran: 83)
“...bahkan apa yang ada di langit dan di bumi adalah kepunyaan Allah, semua tunduk kepadaNya.” (QS. Al-Baqarah: 116)
“Dan kepada Allah sajalah segala apa yang berada di langit dan semua makhluk yang melata di bumi dan (juga) para malaikat, sedang mereka (malaikat) tidak menyombongkan diri.” (QS. An-Nahl: 49)
“Apakah kamu tiada mengetahui, bahwa kepada Allah bersujud apa yang ada di langit dan di bumi, matahari, bulan, bintang, gunung, pohon-pohon, binatang-binatang melata dan sebagian besatr manusia?” (QS. Al-Hajj: 18)
“Hanya kepada Allah-lah sujud (patuh) segala apa yang di langit dan di bumi, baik dengan kemauan sendiri ataupun terpaksa (dan sujud pula bayang-bayangnya diwaktu pagi dan petang.” (QS. Ar-Rad: 15)
Adapun maksud dari sujudnya alam dan benda-benda adalah ketundukan mereka kepada Allah dan masing-masing benda bersujud menurut kesesuaiannya, yaitu sujud yang sesuai dengan kondisinya dan mengandung makna tunduk kepada ar-Rabb.
Penyimpangan Dalam Masalah Tauhid Rububiyyah
Telah dijelaskan sebelumnya bahwa keumuman manusia mengakui Tauhid Rububiyyah kecuali hanya segelintir orang nyeleneh dan menyimpang. Dan bila segelintir orang itu berubah kondisinya menjadi sempit, maka fitrah mereka akan kembali (lihat: Tauhid Rububiyyah Ini Diyakini oleh Seluruh Manusia, Bahkan Seorang Atheispun). Penyimpangan dari Tauhid Rububiyyah terbagi kepada tiga jenis keyakinan:
Mengingkari dan kafir terhadapnya secara mutlak
Keyakinan ini dianut oleh kaum Duhriyyah sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:
“Dan mereka mengatakan, ‘Kehidupan ini tidak lain hanyalah kehidupan di dunia saja, kita mati dan kita hidup dan tidak ada yang akan membinasakan kita selain masa’.” (Al-Jatsiyah: 24)
Juga dianut oleh kaum atheis/komunis yang mengatakan bahwa tidak ada pencipta, dan bahwa kehidupan ini hanya sebatas materi. Dianut pula oleh sebagian kaum filsafat yang tidak meyakini keberadaan Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Meniadakannya dari Allah Subhanahu wa Ta’ala dan menetapkannya kepada yang selain Allah Subhanahu wa Ta’ala
Keyakinan ini sebagaimana yang dianut oleh Fir’aun ketika mengucapkan:
"Akulah Rabbmu yang paling tinggi." (An-Nazi’at: 24)
Menyekutukannya
Keyakinan ini setidaknya terdapat pada tiga aliran sesat, sebagai berikut:
Al-Qadariyyah yang meyakini bahwa manusia menciptakan perbuatan mereka sendiri selain Allah Subhanahu wa Ta'ala. Berarti, menurut mereka bahwa di alam ini ada dua pencipta, yaitu Allah Subhanahu wa Ta’ala dan manusia yang menciptakan perbuatannya sendiri.
Al-Majusi yang meyakini keberadaan dua pencipta, pencipta kebaikan (Ilahun Nur) dan pencipta keburukan (Ilahuzh Zhulmah). Mereka telah mengkafiri dan sekaligus menyekutukan perkara Rububiyyah.
Orang-orang Shufiyyah (Sufi) yang meyakini bahwa sebagian para wali yang mereka gelari dengan Al-Aqthab memiliki pengaruh atas urusan alam ini bersama Allah Subhanahu wa Ta’ala. Bahkan sebagian mereka meninggikan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam sederajat dengan Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam perkara Rububiyyah dari sisi memberi kemanfaatan dan menolak bahaya.
Wallahu a’lam bish-shawab.
Setelah mengenal Allah subhanahu wa ta’aladengan rububiyyahNya serta penyimpang-penyimpangannya, tidak cukup sampai disini, langkah selanjutnya adalah memahami konsekuensi dari rububiyyah Allah.
Konsekuensi dari Tauhid rububiyyah
Tidaklah seseorang itu dikatakan sebagai muwahhid hanya dengan mengakui tauhid rububiyyah saja, tetapi ia harus mengakui tauhid uluhiyyah serta mengamalkannya. Barang siapa yang mangakui (sebenarnya seluruh makhluk Allah mengakui sebagaimana fitrahnya) tauhid rububiyyah untuk Allah subhanahu wa ta’ala, dengan mengimani tidak ada pencipta, pemberi rizki, dan pengatur alam kecuali Allah subhanahu wa ta’ala, maka ia harus mengakui bahwa tidak ada yang berhak menerima ibadah dengan segala bentuk macamnya kecuali Allah. Hal ini sesuai dengan akal fitrah manusia karena bagaimana mungkin sesuatu itu berhak menerima penghormatan, menerima sanjungan, menerima pujian, menerima penghargaan, menerima rasa cinta maupun takut, atau menerima pengakuan jika ia tidak bisa menciptakan, mengatur, atau memberi sesuatu yang baik maupun yang buruk?
Oleh karena itu, konsekuensi dari tauhid rububiyyah adalah mengikhlaskan segala bentuk ibadah hanya untuk Allah dengan tidak memberikannya kepada selainNya. Itulah Tauhid uluhiyyah.
Tauhid uluhiyyah yaitu tauhid ibadah, karena ilah maknanya adalah ma’bud (yang disembah). Maka tidak ada yang diseru dalam do’a kecuali Alla, tidak ada yang dimintai pertolongan kecuali Dia, tidak boleh ada yang dijadikan tempat bergantung segala urusan kecuali Dia, tidak boleh menyembelih qurban atau bernadzar kecuali untukNya, dan tidak boleh mengarahkan seluruh ibadah kecuali hanya untukNya dan karenaNya semata.
Jadi tauhid rububiyyah adalah bukti wajibnya tauhid uluhiyyah. Karena itu Allah seringkali membantah orang yang mengingkari tauhid uluhiyyah dengan tauhid rububiyyah.Seperti dalam firman Allah subhanahu wa ta’ala,
“Hai manusia, sembahlah Tuhanmu yang telah menciptakanmu dan orang-orang sebelummu, agar kamu bertakwa. Dialah yang menjadikan bumi sebagai hamparan bagimu dan langit sebagai atap, dan ia menurunkan air hujan dari langit lalu dengan hujan itu Dia menjadikan segala buah-buahan sebagai rizki untukmu; karena itu janganlah kamu mengadakan sekutu-sekutu bagi Allah, padahal kamu mengetahui.” (QS. Al-Baqarah: 21-22)
Dia juga memerintahkan RasulNya untuk berhujjah dengan tauhid rububiyyah sebagai bukti wajibnya tuhid uluhiyyah. Allah berfirman,
“Katakanlah, ‘Kepunyaan siapakah bumi ini, dan semua yang ada padanya, jika kamu mengetahui?’ Mereka akan menjawab, ‘Kepunyaan Allah’. Katakanlah, ‘Maka apakah kamu tidak ingat?’ Katakanlah, ‘Siapakah Yang Empunya langit yang tujuh dan Yang Empunya ‘Arsy yang besar?’ Mereka akan menjawab, ‘Kepunyaan Allah.’ Katakanlah, ‘Siapakah yang ditanganNya berada kekuasaan atas segala sesuatu sedang Dia melindungi, tetapi tidak ada yang dapat dilindungi dari(adzab)Nya, jika kamu mengetahui?’ Mereka menjawab, ‘Kepunyaan Allah.’ Katakanlah, ‘Maka dari jalan manakah kamu ditipu?’” (QS. Al-Mu’minun: 84-89)
“(Yang memiliki sifat-sifat yang) demikian itu ialah Allah Tuhan kamu; tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia; Pencipta segala sesuatu, maka sembahlah Dia.” (QS. Al-An’am: 102)
Dan tidaklah seseorang itu dikatakan sebagai muwahhid hanya dengan mengakui tauhid rububiyyah saja, tetapi ia harus mengakui tauhid uluhiyyah serta mengamalkannya (lihat: QS. adz-Dzariya ayat 56). Kalau tidak, sesungguhnya orang musyrikpun mengakui tauhid rububiyyah, tetapi hal ini tidak menjadikan mereka masuk Islam. Bahkan, mereka diperangi oleh Rasulullah صلى الله عليه وسلم. Padahal mereka mengakui Allah subhanahu wa ta’aladengan rububiyyahnya (lihat: materi ‘Tauhid rububiyyah Ini Diyakini oleh Seluruh Manusia, bahkan seorang Atheispun’ diatas).
Pentingnya bab ini mengharuskan kita untuk memahaminya lebih dalam. Apa dan bagaimana tauhid uluhiyyah, nantikan penjelasannya dipost berikutnya. Insyaallah. Wallahu’alam.
Serial Penjelasan Rukun Islam #1: (3) Mengenal Tauhid Uluhiyyah
___________
I.Adalah salah satu kesalahan saya memulai pembahasan syahadat tanpa didahului bab ini. Bab ini sangat penting sebagai bekal dalam memahami syahadat. Oleh karena itu, bila ini adalah yang pertama yang anda baca diantara serial rukun Islam yang lain, maka bersyukurlah. Saya juga akan membenahi judul post dengan angka-angka urutan membaca.
-Pokok-pokok Ajaran Islam yang Wajib Diketahui Setiap Muslim, Dr. Abdullah Al-Mushlih dan Dr. Shalah Ash-Shawi
-Kitab At-Tauhid Lish Shaffil Awwal Al-Ali, Edisi Indonesia Kitab Tauhid 1, Penulis Syaikh Dr Shalih bin Fauzan bin Abdullah bin Fauzan, Penerbit: Darul Haq
-Minhajul Muslim, Edisi Terjemahan, Abu Bakar Jabir al-Jaza’iri, Penerbit: Insan Kamil
-3 Landasan pokok, syarah Syaikh Utsaimin, Penerbit: Darul Haq
-e-book kumpulan artikel Darussalaf.or.id, Tauhid Rububiyyah, Bukan Sekedar Pengakuan
No comments:
Post a Comment
Berkomentarlah dengan penuh pertanggung jawaban