Saturday, 2 November 2013

0 Koreksi Amalan Dibulan Suro (Muharrom) (2)

, ,

Jika diteliti dengan seksama ternyata tradisi-tradisi yang berkaitan dengan bulan suro umumnya berbasis bid’ah, khurofat dan kesyirikan. Wallohul musta’an. Berikut ini beberapa contoh umum dari kepercayaan dan tradisi tersebut :

Melemparkan sesajian atau tumbal ke lautan

Tradisi ini kebanyakan dijumpai di daerah pesisir laut selatan. Mereka berkeyakinan bahwa dengan tradisi ini maka amarah penunggu laut dapat tercegah serta nantinya dapat mendatangkan keberkahan laut berupa ikan yang banyak. Para pembaca sekalian, jika dilihat, maka tradisi ini -tidak ragu lagi- merupakan bentuk kesyirikan.

Dengan berbuat seperti itu seseorang telah mengakui adanya sekutu bagi Alloh dalam hal pemberian rizki dan penangguhan bahaya. Padahal tidak ada yang kuasa untuk memberi manfaat berupa rezeki maupun yang lainnya kecuali Alloh.. Tidak ada yang kuasa menimpakan bahaya, bencana dan kecelakaan selain Alloh. Alloh pulalah yang Mahakuasa untuk melepaskan bahaya dan bencana tersebut. Alloh Ta’ala berfirman yang artinya,

”Dan nikmat apa saja yang engkau miliki, maka datangnya dari Alloh. Bila kamu ditimpa oleh kemudhorotan, maka hamya kepada-Nya-lah kamu meminta pertolongan.” (An Nahl : 53)

Maha Suci Alloh dari apa yang mereka persekutukan! Alloh Ta’ala berfirman, yang artinya :

”Tiadakah kamu mengetahui bahwa kerajaan langit dan bumi adalah kepunyaan Allah? Dan tiada bagimu selain Allah seorang pelindung maupun seorang penolong.” (Al Baqoroh: 107)

Maka adakah jalan lain bagi orang yang masih punya akal pikiran untuk menyekutukan Alloh ??

Tidak mengadakan pernikahan, khitanan dan membangun rumah

Tradisi ini bersumber dari keyakinan masyarakat bahwa bulan suro adalah bulan yang keramat dan penuh bala. Ini membuat masyarakat tidak bernyali untuk mengadakan suatu acara terutama hajatan dan acara pernikahan. Mereka berkeyakinan apabila melangsungkan acara itu maka akan membawa kesialan dan malapetaka bagi diri mereka. Ini merupakan bentuk celaan terhadap waktu yang Alloh ciptakan. Mencela ciptaan Alloh sama saja dengan mencela Alloh.

Nabi shollallohu ‘alaihi wasallam bersabda yang artinya,
”Janganlah kamu mencela waktu (dahr), karena Alloh itu yang mengatur silih bergantinya waktu.” (HR. Muslim)

Melakukan ibadah-ibadah tertentu di malam suro

Ritual yang umumnya dilakukan biasanya selamatan atau syukuran, sholat asyuro, membaca do’a Asyuro (dengan keyakinan tidak akan mati pada tahun tersebut) dan ibadah-ibadah lainnya. Semua ibadah tersebut merupakan bid’ah (hal baru dalam agama) dan tidak pernah ada contohnya dari Rosululloh maupun para sahabatnya. Ibadah-ibadah ini tertolak dan mendapat ancaman keras berupa neraka.

Rosululloh bersabda yang artinya,
”Barangsiapa melakukan suatu amal yang tidak ada contohnya dari kami maka dia tertolak.” (HR. Muslim)

Hadist-hadits yang menerangkan tentang sholat asyuro adalah palsu sebagaimana disebutkan oleh imam Suyuthi dalam kitab al-La’ali al-Masnu’ah.

Ngalap berkah

Tradisi ini dilakukan dengan mengunjungi daerah keramat atau melakukan ritual-ritual, seperti mandi di grojogan (dengan harapan dapat membuat awet muda), melakukan kirab kerbau bule (kiyai slamet) di kraton Kasunan Solo, thowaf di tempat-tempat keramat, memandikan benda-benda pusaka, begadang semalam suntuk dan lain-lainnya.

Ini semuanya merupakan kesalahan, sebab suatu hal boleh dipercaya mempunyai berkah dan manfaat jika dilandasi oleh dalil syar’i (Al Qur’an dan hadits) atau ada bukti bukti ilmiah yang menunjukkannya.

Semoga Alloh Ta’ala menghindarkan kita dari kesyirikan dan kebid’ahan yang membinasakan.
_________
Penulis: Abu Abdillah M. Budi Darmawan (Buletin At-Tauhid, Jogja)
Sumber: http://salafiyunpad.wordpress.com/2008/12/28/tradisi-nyeleneh-di-bulan-suro/

No comments:

Post a Comment

Berkomentarlah dengan penuh pertanggung jawaban