“Tidaklah ada suatu hari yang amal shalih yang dilakukan padanya lebih dicintai oleh Allah daripada hari-hari ini (yaitu sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah).” (HR. Ahmad, Abu Dawud, At-Tirmidzi, dan Ibnu Majah)
Bertakbir
Penting untuk kita ketahui bahwa di antara amalan yang disyariatkan untuk diperbanyak ketika memasuki 10 hari pertama bulan Dzulhijjah adalah mengucapkan takbir. Ibadah ini masih terus berlanjut hingga akhir hari-hari Tasyriq. Ada dua macam takbir yang disyariatkan pada hari-hari tersebut, yaitu Takbir Muthlaq dan Takbir Muqayyad.
Takbir Muthlaq dilakukan sejak masuknya bulan Dzulhijjah sampai akhir hari Tasyriq. Adapun pelaksanaannya adalah setiap waktu, tidak hanya setiap selesai shalat fardhu. Jadi pensyariatannya bersifat mutlak, oleh karena itulah dinamakan Takbir Muthlaq.
Takbir Muqayyad dilakukan setiap selesai shalat fardhu, dimulai sejak shalat shubuh hari ‘Arafah sampai seusai shalat ‘Ashr hari Tasyriq yang terakhir. Jadi pensyariatannya terikat dengan shalat, oleh karena itu dinamakan dengan Takbir Muqayyad (terikat).
Puasa Arafah
Bagi jama’ah haji, hari Arafah adalah saat yang istimewa. Karena pada hari itulah puncak pelaksanaan manasik haji ditunaikan, yaitu wukuf di padang Arafah. Pada hari itulah, banyak hamba-hamba Allahsubhaanahu wa ta’aalaa yang dibebaskan dari an-naar (api neraka).
Rasulullahshallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda (yang artinya):
“Tidak ada hari yang Allah membebaskan hamba-hamba dari api neraka yang lebih banyak daripada hari Arafah, dan sesungguhnya Allah akan mendekat dan kemudian membanggakan mereka di hadapan para malaikat dan berfirman: apa yang mereka inginkan?” (HR. Muslim)
Bagi umat Islam yang tidak sedang menunaikan ibadah haji pun, juga berkesempatan untuk mendapatkan keutamaan dan pahala yang besar di hari itu, yaitu dengan berpuasa (‘Arafah).Walaupun hukumnya sunnah, namun amalan puasa yang dilakukan pada tanggal 9 Dzulhijjah ini memiliki keutamaan yang sangat besar.
Sebagaimana sabda Nabishallallaahu ‘alaihi wa sallam:
“(Puasa Arafah) menghapus dosa-dosa setahun yang lalu dan setahun yang akan datang.” (HR. Muslim)
‘Idul Adha
Tanggal 10 Dzulhijjah adalah hari raya ‘Idul Adha.
Disebut juga dengan hari nahr (نَحْرٌ), karena pada hari inilah dimulainya pelaksanaan nahr (dzabh atau penyembelihan) terhadap hewan kurban dan hewan hadyu (bagi jama’ah haji).
Inilah hari yang paling agung dan paling baik di sisi Allah subhaanahu wa ta’aalaa, sebagaimana sabda Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam:
“Sesungguhnya hari yang paling agung di sisi Allah tabaraka wata’ala adalah hari nahr, kemudian hari al-qarr.” (HR. Abu Dawud)
Ibnul Qayyim rahimahullaah berkata, “Sebaik-baik hari di sisi Allah subhaanahu wa ta’aalaa adalah hari Nahr, dan dia adalah hari Haji Akbar.” (Zadul Ma’ad)
Adapun hari al-qarr adalah sehari setelah hari nahr, yaitu tanggal 11 Dzulhijjah.
Shalat ‘Idul Adha
Beliau biasa mengerjakan shalat dua hari raya di mushalla -(secara bahasa artinya tempat shalat)-. Para ulama menerangkan bahwa mushalla yang dimaksud di sini adalah tanah lapang, bukan masjid. Kecuali jika ada halangan, seperti hujan.
Dalam kitab Shahih-nya, al-Imam al-Bukhari rahimahullaah meriwayatkan sebuah hadits (yang artinya):
“Adalah Rasulullah dahulu keluar pada hari Idul Fitri dan Idul Adha ke mushalla, yang pertama kali beliau lakukan adalah shalat.”
Shalat ‘Idul Adha disunnahkan untuk disegerakan pelaksanaannya agar kaum muslimin bisa bersegera menyembelih hewan kurbannya. Karena demikianlah yang afdhal, bersegera melakukan penyembelihan agar daging kurban itu bisa segera dinikmati.
Sangat dianjurkan bagi kaum muslimin yang hendak menunaikan shalat ‘Id untuk:
- mandi
- mengenakan pakaian yang paling baik sesuai dengan aturan syar’i dalam berpakaian.
- Bagi laki-laki sangat disukai untuk memakai wewangian, namun tidak bagi wanita.
- Sepulang dari shalat ‘Id, disunnahkan untuk melalui jalan yang berbeda dengan jalan yang dilalui ketika berangkat.
- Kemudian bagi yang berkurban, hendaknya bersegera menyembelih hewan kurbannya.
Hari Tasyriq
Hari Tasyriq adalah tiga hari setelah hari nahr, yaitu tanggal 11, 12, dan 13 Dzulhijjah.
Hari-hari tasyriq juga diistilahkan dengan hari-hari Mina. Karena selama tiga hari ini, jama’ah haji sedang menyempurnakan rangkaian manasik haji mereka di Mina, yaitumabit (bermalam) dan melempar jumrah di sana.
Disunnahkan pada hari-hari ini untuk memperbanyak dzikir kepada Allahsubhaanahu wa ta’aalaa, sebagaimana yang diperintahkan dalam ayat-Nya (artinya):
“Dan berdzikirlah (dengan menyebut) Allah dalam beberapa hari yang berbilang.” (Al-Baqarah: 203)
Abdullah bin Abbas radhiyallaahu ‘anhuma berkata, “Yang dimaksud dengan ‘beberapa hari yang berbilang’ pada ayat tersebut adalah hari-hari tasyriq.” (Tafsir Ibnu Katsir)
Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam sendiri pun juga telah menganjurkan umatnya untuk menjadikan hari tasyriq ini sebagai hari-hari untuk berdzikir kepada Allah subhaanahu wa ta’aalaa.
Beliau shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
أَ“Hari-hari Tasyriq adalah hari-hari untuk menikmati makanan dan minuman, serta hari-hari untuk berdzikir kepada Allah Ta’ala.” (HR. Muslim)
Hadits di atas juga menunjukkan larangan berpuasa pada hari tasyriq. Beliau shallallaahu ‘alaihi wa sallam pernah mengutus salah seorang shahabatnya yang bernama Abdullah bin Hudzafahradhiyallaahu ‘anhu untuk berkeliling di Mina pada hari tasyriq sambil mengumumkan (yang artinya):
“Hendaknya kalian jangan berpuasa pada hari-hari ini (hari-hari tasyriq), karena itu adalah hari-hari untuk menikmati makanan, minuman, dan hari-hari untuk berdzikir kepada Allah ‘azza wajalla.” (HR. Ahmad)
Semoga menjadi bekal ilmu dan amal yang bermanfaat bagi kita semua. Amin.
_____
Penulis: Al-Ustadz Abu Abdillah Kediri
http://www.buletin-alilmu.com/amalan-mulia-seputar-idul-adha

No comments:
Post a Comment
Berkomentarlah dengan penuh pertanggung jawaban