Monday, 30 September 2013

0 Ikhlas dan Riya': Riya' Penghancur Ibadah

,
Para pembaca rahimakumullah, salah satu penyakit yang dapat menodai keikhlasan seorang hamba adalah riya’. Yang dimaksud dengan riya’ adalah memperlihatkan (memperbagus) suatu amalan dengan tujuan mendapatkan pujian manusia.

Penyakit riya’ dapat menimpa siapa saja, termasuk orang yang shalih sekalipun. Di dalam hadits yang panjang dari Abu Hurairah yang diriwayatkan oleh Imam Muslim,
“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengabarkan bahwa golongan yang pertama kali dihisab pada hari kiamat adalah seorang yang mati syahid, seorang yang mempelajari dan mengajarkan ilmu, dan seorang yang bersedekah. Namun, ternyata Allah ta’ala masukkan mereka ke dalam neraka karena niat ibadah mereka tidak ditujukan kepada Allah ta’ala. Orang yang mati syahid ternyata berperang sampai syahid supaya dia dikatakan pemberani, orang yang mempelajari dan mengajarkan ilmu ternyata ingin dikatakan sebagai seorang alim, dan orang yang bersedekah ternyata ingin supaya dikatakan dermawan oleh orang lain.”

Hadits ini hendaknya menjadi peringatan bagi kita yang hendak beramal agar memurnikan ibadah kita hanya untuk Allah ta’ala semata dan membersihkannya dari kotoran-kotoran riya’ dan sum’ah yang dapat menodainya.

Selain itu, seorang yang riya’ dalam ibadahnya, berarti terdapat dalam dirinya satu bagian dari sifat-sifat kaum munafikin, sebagaimana firman Allah ta’ala :
“Dan apabila mereka (kaum munafikin) berdiri mengerjakan shalat, maka mereka berdiri dalam keadaan malas dan riya’ di hadapan manusia dan tidaklah mereka mengingat Allah kecuali sedikit sekali” (QS. An Nisa: 142).

Allah ta’ala juga berfirman
”Maka kecelakaanlah bagi orang yang shalat, yaitu mereka yang lalai dalam shalatnya,(dan) mereka yang riya’…” (QS. Al Ma’un: 4-6). (lihat I’anatul mustafid). Inilah ancaman Allah untuk orang-orang yang riya’ 

Wal iyyadzu billah.

Generasi terbaikpun Mengkhawatirkannya
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda
“Sesuatu yang paling aku takutkan menimpa kalian adalah syirik asghar”. Lalu beliau ditanya tentang (maksud) hal tersebut (syirik asghar), maka beliau menjawab “Riya’”. [HR. Ahmad, hasan].

Lihatlah, Rasulullah mengatakan hal ini kepada Abu Bakar, Umar, para sahabat muhajirin dan anshar radhiyallahu ‘anhum yang telah mencapai ketinggian tauhid, iman, dan jihad fi sabilillah. Namun, bersamaan dengan itu Rasulullah tetap takut riya’ menjangkiti mereka. Maka siapa lagi yang bisa merasa aman setelah mereka? (lihat I’anatul Mustafid).

Tatkala hadits tentang golongan orang yang pertama kali dimasukkan ke neraka karena riya -sebagaimana telah disebutkan di awal- sampai ke sahabat Mu’awiyah bin Sufyan radhiyallahu ‘anhu, beliau jatuh pengsan. Setelah siuman beliau berkata “Telah benar Allah dan Rasul-Nya. Allah ta’ala berfirman “Barang siapa yang menghendaki kehidupan dunia dan perhiasannya, niscaya Kami berikan kepada mereka balasan pekerjaan mereka di dunia dengan sempurna dan mereka di dunia itu tidak akan dirugikan. Itulah orang-orang yang tidak memperoleh bagian di akhirat, kecuali neraka….” (QS Hud: 15-16) (lihat Jami’ul Ulum wal hikam, Ibnu Rajab Al Hanbali)

Sufyan Ats Tsauri rahimahullah berkata “Tidaklah ada sesuatu yang lebih sulit untuk aku perbaiki melainkan niatku” (lihat Jami’ul ‘ulum).

Demikian pula para ulama’ ketika menulis kitab, banyak di antara mereka membuka kitabnya dengan hadits Umar bin Khattab bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda
“Sesungguhnya setiap amal itu tergantung niatnya.Dan sesungguhnya setiap orang akan mendapat balasan sesuai dengan apa yang ia niatkan…” [HR. Bukhari-Muslim].

No comments:

Post a Comment

Berkomentarlah dengan penuh pertanggung jawaban