Kiat-kiat menuju keikhlasan
Syaikh Muhammad bin Shalih al Utsaimin rahimahullah menjelaskan, seseorang dapat mencapai keikhlasan yang sempurna apabila ibadahnya dibangun di atas tiga perkara.
Pertama, seseorang meniatkan suatu amalan sebagai ibadah kepada Allah ta’ala, bukan karena kebiasaan atau rutinitas belaka.
Kedua, seseorang melakukan ibadah tersebut karena Allah dan untuk Allah semata.
Ketiga, seseorang melakukan ibadah tersebut dalam rangka melaksanakan syari’at Allah ta’ala. (lihat Syarah Riyadhush Shalihin)
Sebagai contoh, seseorang mendengar panggilan adzan kemudian menuju masjid untuk mengerjakan shalat. Maka untuk mencapai derajat keikhlasan yang sempurna, orang tersebut harus menjadikan perginya ke masjid dan shalatnya sebagai ibadah kepada Allah ta’ala, bukan sekedar rutinitas kesehariannya. Lalu, dia mengerjakannya karena Allah dan untuk Allah semata, bukan karena ingin dipuji mertua, cari muka kepada atasan, atau yang lain semisalnya. Terakhir, dia berangkat ke masjid dan shalat dalam keadaan dia menanamkan pada dirinya bahwa amalan tersebut telah disyari’atkan oleh Allah ta’ala dan rasul-Nya yang dia harus tunduk dan patuh terhadapnya.
Kiat-kiat terbebas dari riya’
Sesungguhnya seseorang jika telah mampu untuk mewujudkan kiat-kiat keikhlasan di atas, maka otomatis dia dapat terbebas dari riya’. Namun, mengingat peringatan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam terhadap riya’, maka kita tidak bisa menutup mata untuk mencari sebab agar bisa selamat darinya. Di antara sebab-sebab seseorang dapat terbebas dari riya adalah,
1. Berdo’a kepada Allah ta’ala supaya dijauhkan dari penyakit riya’ karena do’a adalah senjata seorang mukmin.
2. Sebisa mungkin menyembunyikan amalan sebagaimana banyak dilakukan oleh orang-orang shalih terdahulu. Tentunya amalan yang bisa disembunyikan adalah amalan yang diberi kebebasan memilih oleh syari’at untuk dikerjakan secara terang-terangan atau sembunyi-sembunyi seperti sedekah. Adapun amalan yang merupakan syi’ar Islam, seperti shalat jama’ah di masjid, sudah menjadi kewajiban bagi tiap muslim laki-laki untuk menghadirinya sehingga tidak bisa dilakukan secara sembunyi.
3. Memandang kecil amalan-amalan kita sehingga dapat menumbuhkan semangat untuk menambah dan memperbaiki amalan.
4. Menumbuhkan rasa takut tidak diterimanya amal oleh Allah ta’ala.
5. Tidak terpengaruh dengan respon orang lain tatkala beribadah.
6. Menyadari bahwa surga dan neraka bukan di tangan manusia, tapi di tangan Allah ta’ala semata.
7. Selalu mengingat bahwa kelak di kubur kita akan sendirian. Yang menemani kita hanyalah amal shalih yang ikhlas karena Allah ta’ala semata.
Namun, tidak setiap amal yang terlihat riya’ bisa dikatakan riya’. Di antara perkara yang bukan termasuk riya’ misalnya seseorang yang melakukan amal dengan ikhlas, namun setelah selesai dia mendapat pujian dari orang lain tanpa dia inginkan, sebagaimana ada seorang shahabat bertanya kepada Rasulullah
“Apa pendapatmu tentang seseorang yang beramal (secara ikhlas) dengan amal kebaikan yang kemudian manusia memujinya?” Maka Rasulullah menjawab: “Itu adalah kabar gembira yang disegerakan bagi seorang mukmin” [HR Muslim].
Selain itu, beramal dalam rangka memberikan teladan bagi orang lain juga bukan termasuk riya’ bahkan hal tersebut dianjurkan oleh syari’at, sebagaimana Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda
Ya Allah, sesungguhnya kami berlindung kepadamu dari perbuatan syirik dalam keadaan kami mengetahuinya, dan kami memohon ampun atas perbuatan syirik yang tidak kami ketahui. Wallahu ta’ala a’lam.
_____________
[Arif Rohman Habib] http://buletin.muslim.or.id/tazkiyatun-nufus/bahaya-riya

No comments:
Post a Comment
Berkomentarlah dengan penuh pertanggung jawaban